PENJAGA TOKO BUKU

Sudah 13 tahun lalu ternyata. Tapi aku masih merasa, baru kemarin aku keluar dari pekerjaan itu. Sebagai penjaga toko buku disalah satu ruko kawasan Braga, Bandung.

April 1998, ya bulan april, aku masih ingat. Dengan pakaian kemeja putih, celana panjang hitam dan sepatu hitam, aku diterima bekerja disana. Betapa senangnya saat itu, resmi diterima bekerja. Setelah hampir setahun aku mencari kesana kemari, tak ada yang mau menerima. Selepas lulus SMA juli 97, aku terpaksa menyiapkan surat-surat yang berhubungan dengan lamaran kerja. Pilihanku memang cuma itu, karena untuk meneruskan kuliah itu sebuah kemustahilan. Itu seperti ingin mencekik mamaku yang sudah sempoyongan menyekolahkan keempat anaknya, ditengah himpitan ekonomi keluarga.

Terhitung agustus 97 hingga maret 98, aku pontang panting mencari pekerjaan, bekerja apa saja. Yang penting aku bekerja, mendapat pengakuan sebagai karyawan. Bukan seorang pengangguran. Aku rela berjalan menyusuri panjangnya jalan raya Rancaekek-Cicalengka, karena dikanan kirinya disesaki pabrik pabrik. Tak apa menjadi buruh pabrikpun, maka aku datangi satu per satu, memasukkan lamaran ke pos satpam yang tak ramah. Dan tak satupun pabrik mau menerimaku sebagai karyawan.

“Kamu ga pantes den jadi buruh..” aku teringat perkataan temanku, Umar, seorang buruh pabrik yang tinggal bertetangga denganku.

“Capek, apalagi buruh laki-laki biasanya mengerjakan pekerjaan sangat berat” sambungnya.

Tak ada pilihan lain Mar, jadi kuli pun aku siap. Asal bisa membantu perekonomian keluargaku. Mama butuh bantuan untuk menyekolahkan dua anaknya lagi. Tapi memang takdir sudah menggariskan, pabrik bukan tempatku.

Setiap sabtu aku rajin membaca koran PR (Pikiran Rakyat), edisi sabtu memang bacaan favorit bagi para pengangguran. Kolom lowongan kerjanya bisa dua sampe tiga halaman. Maka saban sabtu pagi aku asyik membaca kolom per kolom, berharap ada satu atau dua lowongan yang cocok dengan ijazah dan pengalamanku, yang memang masih belum punya pengalaman. Itu aku lakoni dengan sabar, berbulan-bulan lamanya. Sabar dan terus berusaha, mengirim surat atau mendatanginya langsung. Aku jadi semakin tebal muka, semakin terbiasa dengan namanya penolakan. Semakin terbiasa mengerjakan soal-soal psikotes dan wawancara. Mencari pekerjaan menjadi rutinitas sehari-hari, layaknya solat lima waktu. Aku bahkan berpikir pekerjaanku adalah mencari pekerjaan, saking sudah rutinnya.

Dan diterima bekerja disebuah toko buku, adalah kebahagiaan tak terperi saat itu. Tak peduli berapa gaji yang kau terima, asalkan ada sebuah emblem didadaku, seorang pekerja, menggantikan identitasku sebelumnya yang seorang pengangguran. Maka dengan mantap ku iyakan saja penawaran gaji sebesar 75 ribu rupiah perbulan dari majikanku.

Awal april aku mulai pekerjaanku sebagai buruh toko. Datang jam 8 pagi, pulang jam 8 malam. 12 jam menunggu dan melayani pembeli buku. Pemilik toko ini adalah seorang perempuan keturunan china, dengan usia kepala tiga. Matanya sipit tajam menakutkan, jarang sekali ia tersenyum, apalagi kepada suruhannya, termasuk aku. Ternyata pekerjaanku tidak hanya menjaga toko, pagi sebelum buka, aku disuruh menyapu dan mengepel rumahnya, satu lantai diatas toko. Aku tidak mempermasalahkannya, meski pekerjaan itu tidak ada dalam perjanjian kerja, bahkan perjanjian kerjapun secara tertulis tidak ada.

Setiap pagi aku menyapu dan mengepel semua sudut ruangan pribadinya. Rumahnya begitu luas, dipenuhi perabotan yang aku taksir pasti sudah lama. Sehabis mengepel, dilanjutkan dengan menggarisi bawah kaki meja makan dengan kapur barus. Temanku yang lain sibuk didapur, menyiapkan rebus wortel yang dipotong panjang panjang. Itulah santapan breakfast nyonya kami tiap pagi, menyantap wortel rebus sambil membaca koran. Membersihkan rumahnya membuat aku berkesempatan mengamati lebih jauh siapa perempuan ini. Kenapa ia hanya sendirian, kemana suami dan anak-anaknya? Dari perabotan yang ia punya, aku juga bisa menilai seperti apa pribadi dia. Yang kentara dengan jelas adalah dia seorang yang pelit, sangat berhitung untuk soal duit. Lihat saja sekeliling ruangan ini, pasti warisan dari keluarganya yang tak ia ganti.

Pekerjaan harianku dilanjutkan dengan membuka toko, membersikan kaca-kaca depan, mengelap rak-rak serta merapikan buku-bukunya. Tak butuh waktu lama untuk itu semua, setelah beres barulah aku berdiam diri menunggu pembeli. Berdiri dan kadang duduk di satu lorong rak rak buku. Karyawan disini tidak lebih dari lima orang. Satu dikasir, 3 menyebar di lorong-lorong, dan satu lagi di ruang yang ada komputernya, dia seorang administrasi dengan pendidikan paling tinggi diantara kami, D3.

Menunggu pembeli selama hampir 12 jam memang menyenangkan, untuk satu dua hari. Tapi hari selanjutnya adalah pekerjaan yang membosankan, sangat membosankan. Kami tidak boleh bercanda apalagi bergumul dengan yang lain. Untuk sekedar dudukpun perlu curi-curi pandang dari perempuan itu. Ditambah pengunjung toko yang sangat sedikit, toko ini memang terlanjur tertinggal oleh toko buku besar lain seperti gramedia. Buku-buku yang dijual tidak se update Gunung Agung. Jadilah aku seorang buruh toko dengan otak yang tumpul, karena kebanyakan diam dan melamun. Hiburanku cuma membuka-buka buku, terutama buku arsitektur bergambar rumah dan isinya yang sangat mewah. Selebihnya adalah kejutan-kejutan menegangkan akibat dari kemarahan sinyonya. Ia bisa kalap memaki-maki kami meski hanya soal sepele.

Pernah aku gemetaran takut, saat ia kesetanan memarahiku. Ini gara-gara aku solat jumat tanpa sepengetahuannya. Ternyata untuk ritual ibadahpun harus melalui restu darinya. Saat itu aku remaja lugu yang tak punya nyali untuk melawan, bahkan untuk soal agama sekalipun. Dari semua karyawan, tak ada satupun yang berani melawannya, untuk sekedar menatap matanya saja kami tak mampu. Maka ia melancarkan taktik licik, memperdayaku disetiap jumat menjelang siang. Ia menyuruhku membereskan rumahnya diatas. Membereskan apa saja, yang penting selama masa solat jumat itu aku terawasi oleh dia. Memastikan aku tidak keluar untuk menginjakkan kaki ke masjid. Ini sudah keterlaluan, beberapa kali jumat aku harus meninggalkan kewajibanku.

Perempuan itu sudah menjadi hantu yang menakutkan dalam mimpiku. Hidup kami seperti sudah ditentukan olehnya, begitu hebatnya ia mencengkram hidupku, hanya untuk upah 75 ribu rupiah. Hal yang paling aku dan teman-temanku tunggu adalah jam 8 malam. Jam dimana aku seperti lepas dari sangkar yang mengurung. Aku bisa tertawa lepas dengan lainnya, menyusuri jalan Braga yang historis itu untuk pulang kerumah.

Selama bekerja disana aku tidak pulang kerumah. Jam 8 malam sudah tak ada jadwal kereta untuk ke Rancaekek, tempat tinggalku yang nun jauh ditimur Bandung. Selama bekerja disana aku pulang ke tempat saudaraku di kawasan Setra Murni, daerah real estate Bandung Utara. Rumahnya besar dan megah, tapi itu bukan rumah saudaraku. Itu rumah majikannya. Sepasang suami istri ini bekerja disini sebagai penjaga rumah sekaligus jadi pembantu saat majikan mereka datang untuk berlibur dari Jakarta. Dirumah semegah ini, aku harus berbagi kasur dikamar pembantu yang letaknya dekat dapur. Kami berhimpitan disepetak ruangan, sementara ruangan lainnya yang besar kosong melompong. Kecuali jika yang punya rumah datang, maka rumah ini menjadi ramai dan hidup.

Begitulah setiap hari. Bekerja 12 jam dibawah tekanan seorang majikan menakutkan, lalu pulang malam hari melewati area pemakaman yang mistis untuk memasuki rumah majikan lain yang lebih beradab.

Sampai akhirnya aku memutuskan keluar bekerja. Dengan alasan diterima bekerja ditempat lain, padahal aku sendiri belum mendapatkan pekerjaan lain. Alasan utamaku sudah pasti soal solat jumat. Lebih baik keluar dari pada harus keluar dari aturan agama. Itu prinsipku.

Aku ingat, terakhir aku bekerja disana, saat pembagian gaji 75 ribu itu. Malam setelah keluar dari toko, aku ingin segera mendatangi toko kue French Bakery yang ada di sekitaran Braga juga. Aku ingin membelikan mama roti berlapis coklat khas perancis. Saat berada di depan toko itu aku tertegun, terlalu mahal untuk ukuran buruh toko sepertiku. Aku memperhatikan beberapa lembar puluhan ribu dari kantongku. Beberapa saat kemudian aku meninggalkan toko kue itu, tak jadi membelinya.

Akhirnya aku membeli sebungkus roti bakar dipinggir jalan Cicaheum. Malam itu aku ingin langsung pulang ke rumahku sendiri, meski jauh dan mahal tak apa. Yang penting aku bisa memberikan roti ini buat mama, meski hanya roti bakar. Ini gajiku terakhir, tanpa pesangon pula. Maka harus aku alokasikan sebaik mungkin sampai mendapat pekerjaan yang lain. Itulah mengapa aku urungkan niat membeli French Bakery, dalam hati aku berkata

“Sabar ya ma, suatu saat aku pasti bisa membelikan roti paling mahal sekalipun buat mama”.

 

About these ads

9 thoughts on “PENJAGA TOKO BUKU

  1. Pingback: PENGALAMAN KERJA DI TIMEZONE « ADEN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s